Traveling dan Belajar di Negeri “Tembok Raksasa” China


Xuzhou, senin 4 maret 2019. Pagi hari pukul 09.00 WCX (Waktu China bagian Xuzhou) atau pukul 08.00 WIB, kami sudah siap untuk memgikuti orientasi pengenalan kampus. Dinginnya udara disini, tetap membuat kobaran semangat dan nyali ini untuk belajar. 
Pagi ini kita akan berjalan keliling ke tempat-tempat yang kemungkinan pasti sering dikunjungi. Seperti; ruang kelas, ruang pleno, taman kampus, dan kantin. Yang membuat lebih melegakan, di kampus CUMT ini terdapat kantin muslim. Yang tidak diragukan lagi makanannya. Prinsipnya kalau makan di negara orang, bukan masalah rasa. Tapi masalah harga he..he.

The great firewall of China
Salah satu kesulitan yang kami anggap sulit sebelum mendarat di negeri panda ini adalah internet. Bahkan ada yang menyebut the great firewall of China atau tembok besar pelindung yang biasa dipakai dalam komputer. Ya, negara ini memang membatasi situs-situs dan laman internet tertentu. Katakan selamat tinggal pada facebook, google, whatsapp, dan instagram atau youtube. Woow... sangat berat hati ya rasanya melepas beberapa situs itu he he. Tetapi negara China telah menyediakan laman sendiri untuk warganya, seperti; TaoBao.com, we chat, dan tik tok.
Ternyata, jika kita sedia payung sebelum hujan. Kendala itu bisa kita atasi. Sebenarnya kita sebelum berangkat telah mempersiapkan hal itu. Tidak terbayangkan mungkin, bagaimana tidak berjumpa sehari dengan mbah google. Tidak bisa menulis, menulis status di whatsapp atau facebook, atau juga tidak bisa melakukan literasi status terkini he..he.

Gambar Kantin Muslim di dalam Kampus CUMT
Kita perlu berbangga dengan Indonesia. Salah satu provider kita mempunyai program kartu bebas roaming. Salah satu promonya yaitu roaming di Asia- Australia. Sekitar 350 ribu rupiah, kita mendapat jatah 5 GB untuk 1 bulan. Tetapi kita harus menerapkan manajemen “the medit for irit” untuk penggunaan data intenet. Selain itu, kami juga berjaga-jaga dengan siap aplikasi untuk meruntuhkan the great firewall of china. Kita harus instal terlebih dahulu aplikasi tertentu.

Bagaimana setelah sampai di China?
Ternyata setelah kita orientasi, kita diantar ke gerai SIM card China. Sama dengan di kita, harus menyiapkan identitas. Pasport menjadi KTP disana yang harus kita persiapkan.
Persis mengurus KTP di kantor kecamatan waktu pertama ingin mendapat SIM card. Berapa sih kuota internetnya? 55 GB. Woow.... kuota itu bebas digunakan dalam jangka waktu 1 bulan. Harganya bagaimana? Harganya adalah ¥50. Atau jika kita kurs-kan, sekitar 100 ribu rupiah. Sangat murah. Dua senjata inilah, yang sampai saat ini membuat hidup tulisan ini.

Gambar Foto Bersama Pagi Hari di Kampus CUMT – Xuzhou



Kembali ke Laptop
Setelah berkeliling kampus, tibalah makan siang yang ditunggu-tunggu. Bakpao merupakan menu yang paling rajin dan setia selalu hadir di meja makan. Pukul 14.00 kita harus siap menuju kampus JSVIT untuk mengikuti upacara pembukaan. Kita bisa bersatu dengan rombongan lain sekitar 250-an guru dan tenaga kependidikan. Rombongan lain tersebut utusan dari Ditjen GTK Kemdikbud RI.

Gambar Foto Bersama Bapak Direktur Dikdas
dengan Salah Satu Widyaiswara PPPPTK PKn dan IPS
Upacara pembukaan berjalan dengan semangat bilateral. Pihak Indonesia diwakili oleh Direktur Pembinaan Guru Pembinaan Dasar Kemendikbud RI, Bpk. Dr. Praptono. Dan pihak China diwakili oleh Presiden atau rektor Jiangsu Science Vocational Institute and Technology (JSVIT). Pembukaan yang tidak hanya melibatkan bahasa dua negara saja. Melainkan tiga yaitu, Indonesia, China dan Inggris. Dalam sambutannya Bpk. Direktur berpesan empat hal. Yaitu, niat untuk belajar dengan disiplin, tepat waktu dalam pelatihan, eksplorasi sebanyak mungkin pengalaman belajar, dan literasi budaya. Semoga kesempatan belajar ini dapat bermanfaat bagi pengembangan pendidikan. Khususnya bagi para peserta didik yang pasti merindukan Pak guru yang keren ini.



Setelah sesi foto bersama keluarga besar sekali. Kita harus berpisah menuju kampus masing-masing. Dalam lamunan kusempatkan untuk mengintip buku pedoman lagi. Sebelum mendapatkan kesempatan belajar tentang pendekatan STEM. Esok hari, harus siap belajar dasar bahasa mandarin. Bisa kah? ... mohon bersabar ditunggu di edisi selanjutnya. (Wahyu Purwanto, M.Pd.) 

5 Responses to "Traveling dan Belajar di Negeri “Tembok Raksasa” China"

  1. Its an incredible joy perusing your post.Its brimming with data I am searching for and I want to post a remark that "The substance of your post is magnificent" Great work.  india visa application

    ReplyDelete
  2. Whether you are a first time traveler or a frequent traveler, travel safety starts with you. To some people, traveling overseas form part and parcel of their office work. They are exposed to risks whenever they go for an overseas trip.cost of a disney vacation

    ReplyDelete
  3. When your customers are back from their trip, encourage them to share their travel experience with you by offering valuable feedback.wyndham hotels near ottawa ks

    ReplyDelete
  4. People are always rushing from destination to destination. But in a self-planned travel programme, travellers can afford to spend more time interacting with the local population, whistler ski homes thus gaining more insight into the community. Self-planned travels are often repeated because strong ties are established in previous trips.

    ReplyDelete
  5. The scripts are great tools of converting people's subconscious minds into a friend rather than a foe. Instead of having a subconscious mind that is deep-seated in travel anxiety, italy sicilian you'll have a subconscious mind that is confident and not frightened of flights.

    ReplyDelete

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel